Model Pembelajaran Advance Organizer

Model mengajar Advance Organizer adalah salah satu model dalam rumpun pemprosesan informasi yang dikembangkan oleh David Ausubel (1963).

David Ausubel dalam Joyce, et al (2009:208) mengemukakan teorinya menyangkut tiga hal :

  1. Bagaimana ilmu itu diorganisasikan artinya bagaimana seharusnya isi kurikulum itu di tata.
  2. Bagaimana proses berpikir itu terjadi bila berhadapan dengan informasi baru.
  3. Bagaimana guru seharusnya mengajarkan informasikan baru itu sesuai dengan teori tentang isi kurikulum dan teori belajar.
  4. Sintaks

Model pembelajaran Advance Organizer terdiri dari tiga tahap.

Tabel 2.1: Sintaks Model Pembelajaran Advance Organizer

Tahap

                           Tingkah Laku Guru
Tahap-1 Penyajian Advance Organizer
  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran
  2. Menyajikan Advance Organizer
  3. Menumbuhkan kesadaran pengetahuan dan pengalaman siswa yang relevan.
Tahap-2Penyajian bahan pelajaran
  1. Membuat organisasi secara tegas
  2. Membuat urutan bahan pelajaran secara logis dan eksplisit
  3. Memelihara suasana agar penuh perhatian
  4. Menyajikan bahan
Tahap-3Penguatan organisasi kognitif
  1. Menggunakan prinsip-prinsip rekonsiliasi integratif
  2. Meningkatkan kegiatan belajar (belajar menerima)
  3. Melakukan pendekatan kritis guna memperjelas materi pelajaran
  4. Mengklarifikasikan

(Hidayat: 2008)

Pada tahap pertama, mengklarifikasikan tujuan pelajaran adalah salah satu cara untuk memperoleh perhatian siswa dan mengarahkan mereka pada tujuan-tujuan pembelajaran, keduanya penting untuk memfasilitasi pembelajaran yang bermakna. Menyampaikan Advance organizer adalah gagasan dalam dirinya sendiri dan, seperti materi pelajaran, harus dieksplorasi secara terampil. Ia juga harus dibedakan dari pernyataan-pernyataan pengenalan, yang hanya berguna untuk pelajaran tetapi tidak untuk advance organizer.

Selanjutnya Hidayat (2008) mengemukakan ada dua jenis advance organizer :

1)      Expository organizer menjadi konsep dasar pada tingkat abstraksi tertinggi. Organizer ini mempresentasikan perancah intelektual tentang bagaimana siswa akan menggantungkan informasi baru yang mereka temui. Organizer ekspositori khususnya berguna karena ia menyediakan perancah ideasional untuk materi-materi yang asing/tidak biasa.

2)      Comparative organizer biasanya diterapkan pada materi yang biasa. Organizer ini dirancang untuk membedakan antara konsep baru dan kosep lama untuk menghindari kebingungan yang disebabkan oleh kesamaan antar keduanya.

Organizer harus dibangun berdasarkan konsep-konsep penting atau rancangan-rancangan suatu disiplin atau bidang kajian Pertama, organizer harus dibangun sehingga pembelajar dapat menghayati kegunaannya. Fitur utama suatu organizer dengan demikian adalah, bahwa ia berada dalam tingkat abstraksi dan generalisasi yang paling tinggi daripada tugas pembelajaran itu sendiri. Tingkat abstraksi tertinggi adalah apa yang membedakan organizer dengan overview (pengenalan), yang ditulis (atau diucapkan) pada tingkat abstraksi yang sama sebagaimana materi pembelajaran. Hal ini disebabkan karena organizer tersebut, sebenarnya, merupakan preview (tampilan awal) dari materi pembelajaran. Kedua, apakah organizer itu ekspositori atau komparatif, fitur penting dari suatu konsep atau rancangan harus ditunjukkan dan dijelaskan secara seksama (joyce, et al., 2009:290)

Aunurrahman (2009:160) mengemukakan beberapa tugas yang harus diselesaikan pada tahap dua yaitu: Membuat organisasi secara tegas, membuat urutan bahan pelajaran secara logis dan eksplisit, memelihara suasana agar penuh perhatian, dan menyajikan bahan. Dalam membuat organisasi secara tegas dan membuat urutan bahan pelajaran secara logis dan eksplisit, model pembelajaran advance organizer dapat menggunakan media peta konsep dalam aplikasinya dan untuk mempertahankan perhatian dapat dilakukan dengan berbagai rangsangan (gerakan, sikap, nada suara) atau menggunakan media lain untuk melengkapi presentasi. Fase kedua dapat dikembangkan dalam bentuk diskusi, melakukan percobaan, ceramah, siswa memperhatikan gambar-gambar, membaca teks, yang masing-masing diarahkan pada tujuan pengajaran yang ditunjukan pada langkah pertama.

Selanjutnya Hidayat (2008) mengemukakan bahwa, ada dua prinsip dalam pengembangan sistem hirarki dalam PBM dapat dilaksanakan dengan cara:

1)      Diferensiasi progesif yaitu suatu proses mengarahkan masalah pokok menjadi bagian-bagian yang lebh rinci dan khusus. Guru dalam mengajarkan konsep-konsep dari yang paling ingklusif kemudian konsep yang kurang ingklusif setelah itu baru yang khusus seperti contoh-contoh.

2)      Rekonsiliasi integrative yaitu pengetahuan baru yang harus dihubungkan dengan isi materi pelajaran sebelumnya. Penyusunan ini berguna untuk mengatasi atau mengurangi pertentangan kognitif.

Pada tahap ketiga, Joyce, et al (2009:291) mengemukakan beberapa cara untuk memfasilitasi rekonsiliasi integratif  yaitu (1) mengingatkan siswa tentang gagasan-gagasan (gambaran yang lebih besar); (2) meminta ringkasan tentang sifat-sifat penting materi pembelajaran baru; (3) mengulangi definisi-definisi yang tepat; (4) meminta perbedaan-perbedaan di antara aspek-aspek materi.

Pembelajaran aktif dapat ditingkatkan dengan (1) meminta siswa untuk memasok tambahan contoh konsep dalam materi pembelajaran baru; (2) meminta siswa untuk menggambarkan bagaimana cara pembelajaran baru dihubungkan dengan aspek pengetahuan mereka atau pengalaman pribadi mereka; (3) meminta siswa untuk memberikan materi secara lisan dan menerjemahkannya ke dalam istilah mereka sendiri dan kerangka acuan sendiri.

Pendekatan kritis terhadap pengetahuan dapat dilatih dengan meminta siswa mengenali asumsi-asumsi atau kesimpulan-kesimpulan yang mungkin dibuat dalam materi pembelajaran, mempertimbangkan atau menantang asumsi-asumsi dan kesimpulan- kesimpulan ini, dan mendamaikan kotradiksi antar keduanya.

Adalah tidak mungkin atau tidak menarik menggunakan seluruh teknik-teknik ini dalam satu pelajaran. Kendala-kendala seperti waktu, topik, dan relevansi dengan situasi pembelajaran tertentu akan menuntun penggunaan teknik ini. Bagaimanapun, guru harus merespon kebutuhan siswa untuk kepentingan klarifikasi beberapa wilayah topik dan untuk integrasi materi baru dengan pengetahuan yang ada.

  • Sistem sosial

Pada model pembelajaran Advance Organizer guru memegang kontrol terhadap struktur pembelajaran. Hal ini diperlukan dalam upaya menghubungkan materi pembelajaran dengan Advance Organizer dan membantu siswa untuk membedakan antara materi baru dengan materi terdahulu. Keberhasilan penguasaan materi ini bergantung pada kekritisan dan keinginan siswa untuk memadukan atau mengintegrasikan materi serta bagaimana guru menyajikan Advance Organizer. Sistem sosial ini terlihat sangat mencolok dalam tahap ketiga dengan situasi belajar yang lebih ideal karena lebih bersifat interaktif dengan banyaknya siswa yang berinisiatif untuk bertanya.

  • Prinsip reaksi

Pada model pembelajaran Advance Organizer guru memperlihatkan responnya terhadap reaksi siswa yang diarahkan melalui pencapaian tujuan untuk mengklasifikasikan makna materi baru, mendiferensiasikan dan menyelaraskan dengan pengetahuan yang ada, lalu secara pribadi dikaitkan dengan pengetahuan siswa untuk meningkatkan pendekatan kritis terhadap pengetahuan. Idealnya siswa akan memulai pertanyaan mereka sendiri sebagai respon terhadap informasi yang mereka peroleh.

  • Sistem pendukung

Sarana pendukung yang diperlukan Advance Organizer adalah materi yang terorganisasi dengan baik yaitu materi yang saling berhubungan dengan materi terdahulu. Keefektifan Advance Organizer tergantung pada suatu hubungan integral yang tepat antara konsep-konsep yang diorganisasikan dan isi. Model ini memberikan petunjuk untuk mere-organisasikan materi pembelajaran.

  • Dampak instruksional

Dampak instruksional dari model ini yaitu ide/gagasan yang pernah dipelajari digunakan sebagai organizer dan dipresentasikan secara jelas seperti halnya dalam mempresentasikan materi pelajaran. Sehingga siswa mampu menggunakan struktur kognitif mereka untuk menunjang materi baru.

  • Dampak pengiring

Dampak model ini secara tidak langsung siswa memperoleh kemampuan untuk belajar dari membaca, dan media lain yang digunakan dalam penyajian pembelajaran. Hal ini akan membangkitkan kesadaran akan pengetahuan yang relevan dan sikap kritis dalam belajar. (Solihah:2008)

 

sumber

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Hidayat, Nurul. 2008. Model Pembelajaran Advance Organizer. (online). http://aryes-hidayat.blogspot.com/2008/01/model-pembelajaran-advence-organizer.html.

Joyce, B., Weil, M., Calhoun, E.2009. Model-Model Pengajaran (edisi ke-8,cetakan     ke-1). diterjemahkan oleh Achmad Fuwaid dan Ateila Mirza.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Solihah. 2008. Konsep Belajar Bermakna David Ausubel. (online). http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/156/hubptain-gdl-haniatusso-7777-5-babii.pdf

About these ads

Tag: , ,

4 Tanggapan to “Model Pembelajaran Advance Organizer”

  1. rina Says:

    asslm. boleh tanya gak? klu cari buku ttng metode advence organizer dkota pekanbaru dimana ..soalnya judul skripsi saya ttng itu…

    • mawax Says:

      waalaikumsalam! saya posting tulisan ini karena sesuai pengalaman, jarang sekali kita temukan referensi advance organizer, kalaupun ada dalam versi bahasa inggris. bahkan di toko misalkan gramedia tdk ada saya dapat. klo di pekanbaru, saya juga kurang tau. buku yang bagus mungkin model-model pembelajaran Joyce, Weil

  2. 004451 Says:

    biasanya klo buku2 yng berhubungan tentang advance organizer app yh ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: